Wednesday, May 04, 2005

Kantor Baru, Semangat Kerja Baru (?)

Udah lama banget ya, nggak nge-post?


Bulan lalu (April) itu bulan yang hectic banget. Deadline berpadu dengan pindahan kantor ke gedung baru.


Yup. Per tanggal 30 April kami sudah resmi pindahan, setelah berbulan-bulan tertunda. Bayangin adza. Awalnya bulan Agustus 2004, terus mundul bulan September 2004, lalu Desember 2004, Januari 2005, Februari 2005, dan Maret 2005. Tapi syukur sih akhirnya pindah juga. Soalnya di kantor yang dulu tuh, AC-nya udah dicabut sejak bulan Maret! Sepanjang April tuh kami kerja tanpa AC. Panas dan sumpek banget.


Kantor baru tuh tiga lantai. Lantai pertama berbagi dengan Vega. Lantai dua dan tiga baru kami pergunakan. Sementara itu, atapnya a la atap sekolah Jepang gitu. Bisa bersantai di atas sambil lihat-lihat isi rumah tetangga, hehehe!


Asyiknya, ada ruang perpustakaan, walaupun menurutku sih akan lebih baik kalau ada sofa di sana. Biar bisa tiduran gitu? :D
Sisi gak enaknya, para boss tuh ruangannya terbuat dari kaca. Jadi, mereka bisa secara leluasa melihat apa yang kami kerjakan, hehehe. Artinya, ngetik seperti ini, chatting, dll harus hati-hati...atau pas lagi jam makan siang seperti saat ini.


Salah satu keluhan utama kantor lama adalah buruknya fasilitas internet. Buka e-mail adza harus berjuang keras, lho...
Nah, di gedung yang baru ini, boss besar menggunakan fasilitas berbeda (kabel) dari provider yang berbeda juga.
Sayangnya, sampai saat ini, internetnya tetap saja b-o-l-o-t. Katanya sih belum optimal. Ya semoga saja memang sebaik yang dijanjikan dulu.


Berhubung berada di kawasan Dago, kantor yang sekarang ini punya banyak pilihan makanan. Berbahagiakah saya? Ya dan tidak. Senang karena banyak pilihan (saat katering tidak memberikan menu yang pas buat saya), sedih karena harganya mahal-mahal, hehehe!


Hm..., sekarang yang serius. Saat syukuran kemarin itu, big boss bilang semoga dengan kantor baru ini, kinerja kami jadi lebih baik. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, "Apa iya?".
Perasaan sih biasa adza. Senang dengan kantor dan suasana baru, tapi rasanya tidak lebih dari itu.
Jadi teringat sama semangat baru tiap naik kelas. Joan kecil tuh selalu berjanji "Akan lebih rajin, lebih pintar di tahun ajaran mendatang...". Tapi, sepertinya sih dari tahun ke tahun, saya tak kunjung memenuhi janji itu.


Sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya bahkan tidak mengucapkan janji itu. Apakah karena saya akhirnya bosan mengucapkan janji yang takkan kupenuhi? Atau apakah saya bahkan sudah tidak memiliki semangat untuk menjadi lebih baik?
Hm..., cukup bagus sebagai renungan untuk menyambut ulangtahunku nanti... (apakah saya akan ingat? Heaven knows.)

Saturday, March 19, 2005

Yang Membahagiakan Kok Ketinggalan...?

Hehehe. Saya sedang bahagia lho...
Bahagia banget deh. Berbunga-bunga gitu.

Hehehe. Kemarin siang, akhirnya saya menemukannya. *blush*
Kemarin kan bareng Lily dan Vel ke IP (Istana Plaza) buat lunch. Nah terus abis lunch, ngobrol-ngobrol bentar dulu, terus ke Gramed. Ngubek-ngubek di sana... nggak ketemu.

Lalu gak patah semangat, cari di Disc Tarra. Hehehe..., ketemu juga akhirnya. :)
Seneng banget deh... . Tahun lalu sempat sedih banget pas nggak bisa nonton. Makanya sekarang bersyukur banget udah keluar versi VCD-nya. Tinggal nunggu DVD-nya ah, kalo ada. :D

Gara-gara ngubek-ngubek nyari Something The Lord Made itu, alhasil kami baru balik ke kantor jam...14:30!
Hehehe. Charly gak marah dong, untungnya. :D

Anyway, apa yang spesial dari Something The Lord Made? Film ini adalah film HBO, termasuk film terbaik, diangkat dari kisah nyata... seorang dokter dan asistennya yang berkulit hitam (settingnya bukan zaman sekarang, tapi puluhan tahun lalu saat diskriminasi ras masih sangat jelas). Biasa adza? Iya sih... . Sebenarnya biasa adza. Dan juga gak akan saya beli, kalau bukan Alan Rickman yang main, hihihihi!

Ketahuan kan, kenapa saya berbunga-bunga? ;)

Zeraaagh... :)

Aduh..., suara saya sekarang serak banget. Tapi nggak nge-bas, sebaliknya jadi tinggi, hehehe. Kebayang kan? Suara cempreng saya sekarang naik 1 oktaf? Hahahaha!

Semua ini akibat kemarin malam, berkaraoke selama 3 jam! Karena ini kali kedua saya karaoke, sepertinya pita suara saya belum terbiasa. Adik saya harus sering-sering pulang dan membawa saya ke tempat karaoke nih, hihihi.
Tinggal nunggu deh, kapan ya adik saya ngajak saya dugem? *dijitak Jeff*
Belum pernah dugem nih... *memelas*

Tapi... seandainya saya diajak dugem, saya bakal demen gak ya? Jangan-jangan malah langsung minta pulang karena ... ngantuk, hehehe.
Sampai sekarang saya memang susah melanggar jam tidur. Heran juga, ke mana perginya insomnia yang saya derita saat kuliah dulu?

Thursday, March 17, 2005

Blue + Papa = ?

Blue. Biru. Blau.

Itu mood saya saat menulis ini. Tadi pagi, saat bangun mood saya baik-baik saja. Trus pas lihat waktu baca koran pagi sambil dengerin WASWAS (itu tuh...infotainment pagi-pagi, di SCTV), sempat sebel juga sama keisengan pers kita ngobrak-ngabrik kehidupan pribadi selebritis. Sophia Latjuba itu. Bukannya saya membela sih, tapi ya sudahlah...kenapa masih diributkan "Tidak sesuai dengan norma Indonesia"?
Seperti tidak ada saja orang (artis) Indonesia yang seperti itu? Ributin tuh hal-hal lain lah, yang lebih masuk akal. Tapi... kalau nggak yang aneh-aneh begitu, ntar acaranya malah gak laku ya? :)

Nah, kayaknya dari situ deh start-nya saya udah mulai sensitif. Namun benar-benar meledak saat sampai kantor, internetnya tulalit. Jam 9 pagi sudah mati. Wah..., apa jadinya nanti siang?

Seakan belum cukup, catatan yang saya buat saat press screening Banyu Biru... hilang. Bingung gak tuh? Memang begonya saya adza, bawa perekam tapi gak dipergunakan. Sebagai gantinya saya dengan imutnya mencatat di kertas. Dan...kertasnya raib entah ke mana.

Oh ya...
Hari Senin kemarin Papa saya sakit. Bikin keder deh. Soalnya pas sore tuh, salah seorang pegawai Papa nelepon saya, "Non, cepat pulang ya... . Papa sakit. Gak bisa bangun..."
Waduh? Panik abis deh. Dalam bayangan tuh udah yang buruk-buruk adza. Maklum dong? Biasanya kalau Papa sakit, gak sampai nyuruh anaknya buat pulang. Lah, ini...Papa minta saya pulang cepat.

Tapi saat saya tiba di rumah, ternyata Papa baik-baik saja. Sedang duduk, nonton teve, sambil minum kopi. -__-
Katanya sih dia sakit, memang, tapi tidak separah yang saya bayangkan, hehehe. Awalnya dia nolak keras ke dokter. Dia bilang, sudah suruh Dindin (supirnya) ke dokter. Lho? Di mana coba logikanya? Yang sakit siapa..., yang ke dokter siapa. :)

Sedikit acara maksa, membuat Papa mau juga ke dokter. Saya sudah ribut, bilang kalau Papa kurang minum air putih, Papa gak minum susu, dll. Ternyata..., kata dokter, sakit pinggang itu sakit biasa buat orang tua. ^^:
Serius lho... . Gagal ginjal, tulang keropos, dll sudah sempat terbersit dalam benak saya. Ternyata nggak separah itu. :p

Setelah pulang, baru deh nyadar betapa laparnya saya (dan Jeff). Sambil membeli obat, kami pergi ke rumah Mama. Dari siang Mama udah sms, menyampaikan bahwa pites (pastel Palembang) pesanan saya sudah jadi.
Wah, senang banget... akhirnya saya dapat menikmati lagi makanan ini. Wong ambik siko, duo, tigo, empat pites, cocol sama cuko. Puas...!
Mama pun membungkuskan 10 pites buat saya bawa pulang. Baik Mama, Papa, dan Jeff bingung, bagaimana saya masih ingat tentang pites itu. Soalnya..., terakhir kali Mama bikin pites itu saat saya masih SD... . Sekitar 3 SD! :)
Mungkin karena sebagian besar otak saya, bukannya dipakai untuk mengingat nama dan wajah orang (saya benar-benar lemah dalam hal ini!), malah dipergunakan untuk menyimpan "Makanan Favorit" ya? Hehehe.

Not too blue anymore... . :)

Monday, March 07, 2005

Requiescat in Pace, Signor Calipari...

Nicola Calipari.




Nama itu mungkin terdengar asing di telinga kita. Tapi dia adalah salah satu korban lagi dari keegoisan Amerika Serikat. Nyawanya melayang karena "salah tembak".


Nicola Calipari adalah seorang anggota veteran SISMI (agen rahasia Italia) yang terbunuh dalam tugasnya, membebaskan wartawati Italia Giuliana Sgrena, di Irak. Sebelumnya, Calipari telah berhasil membebaskan dua sandera Italia lainnya yang disekap di Irak. Selama karirnya, Calipari tercatat sudah beberapa kali berhasil dalam misi membebaskan sandera. Menurut teman-teman seprofesinya, Calipari dikenal sebagai pribadi pendiam, seorang negotiator ulung dan sangat kompeten serta berdedikasi terhadap pekerjaannya.


Jenazahnya diterbangkan ke Roma, hari Sabtu lalu. Presiden Italia, Carlo Azeglio Ciampi, berada di antara massa yang menyambutnya, untuk menunjukkan rasa duka dan hormatnya. Seorang pastor militer dan kakak korban, seorang pastor yang bertugas di Dewan Penasihat Vatikan, dipilih untuk mengadakan misa requiem baginya.


Calipari baru berusia 50 tahun, meninggalkan seorang istri dan dua orang anak mereka yang sudah remaja. Ia tewas saat melindungi Giuliana Sgrena dengan tubuhnya sendiri, dalam perjalanan mereka ke bandara udara Baghdad, perjalanan terakhir sebelum misinya usai. Ia terbunuh karena keegoisan, kebengisan, dan kearoganan sebuah bangsa yang seakan merupakan satu-satunya bangsa yang ada di muka bumi ini!


More on Nicola Calipari, dapat ditemukan di sini


Just another simple word from me, "Curse on you, damn Bush!"

Sunday, March 06, 2005

Women: Go to college, get married and have some children. Is that all?

Baiklah. Rasanya saya sudah bosan bertemu dengan kawan lama dan mendapatkan pertanyaan yang itu-itu juga. "Masih sama si itu?", "Udah married belum nih?", "Kapan nyusul?", "Cepetan punya anak, mumpung masih muda." Tadi malam, saya mengalaminya (lagi).

Bukannya saya tersinggung, sama sekali nggak, malah. Hanya saja..., saat bertemu dengan kawan lama yang sudah sekian waktu tidak bersua, apakah hanya pertanyaan itu yang ingin diajukan? Maksud saya, ke mana pertanyaan "Bagaimana kabarmu?", "Aduh, kangen banget deh!", "Gimana pekerjaanmu?"...?

Saya hanya dapat nyengir saja setiap pertanyaan-pertanyaan standar sekitar pernikahan dan anak itu ditujukan kepada saya. Terkadang, saya suka bertanya-tanya, apa jadinya jika saja saya menjawab, "Wah, saya tidak berniat tuh!"
Kemungkinan besar..., masalah akan menjadi sangat panjang. Saya akan diinterogasi lebih jauh. Tapi, penasaran juga sih, ingin lihat tampang mereka saat mendapatkan jawaban itu dari saya.

Bukannya saya tidak ingin menikah atau punya anak. Hanya saja..., untuk saat ini pernikahan dan punya anak tidak ada dalam daftar "top ten things to do" saya. Ya, Jeff dan saya sudah membicarakan pernikahan, tapi hei... itu masih jauh. Kami masih muda. Saya masih punya begitu banyak impian yang ingin saya capai. Saya tidak mau pernikahan dan anak malah menjadi beban bagi saya, menjadi sebuah alasan bagi saya untuk meratapi hidup saya kelak. Saya melihat contoh nyata, dari Mama, saat seorang anak dan sebuah pernikahan menjadi sebuah perangkap.
Well, mungkin saya memandang hidup ini dengan pesimis, tapi saya hanya berjaga-jaga saja... . Toh, saya bukan seorang anti pernikahan, dan saya sangat menyayangi anak-anak (keponakan-keponakan dan anak-anak teman-teman saya). Salah seorang sahabat saya, Shirley, bahkan pernah komentar kalau saya akan menjadi seorang ibu yang baik (saat ia melihat saya mengasuh keponakannya..., Tanditya ^^;). Nah, saya tidak mau, hal itu hilang karena saya berpendapat, "Gara-gara menikah dan punya baby, saya tidak dapat mencapai impian saya!"
I'll get wed and have kids if only I'm ready for that..., can't they understand?
Apa yang menurut mereka baik dan cocok bagi mereka, belum tentu baik dan cocok juga untuk saya, bukan?

Di sisi lain, jika bukan karena alasan kesopanan, saya justru ingin bertanya balik kepada teman-teman saya yang sukses menjadi ibu muda (saya rasa, usia 25 tahun dan sudah punya anak itu termasuk muda ya, mengingat sekarang ini kan abad 21?).
Saya tidak pernah habis mengerti, mengapa seseorang bersusah payah kuliah (menghabiskan uang ortu), melewatkan sekian tahun dengan belajar (atau main, dalam kasus saya)..., lalu begitu lulus (atau hampir lulus) langsung menikah, dan punya bayi.
Tidak ada karir. Tidak pernah bekerja.

Saya sama sekali tidak mengecilkan profesi (?) ibu rumah tangga lho ya... .
Saya juga bukannya menganggap seorang istri dan ibu tidak perlua mengenyam pendidikan. Sama sekali tidak! Pendidikan yang memadai sangat penting, karena kita sebagai wanita toh sebisa mungkin menjadi teman diskusi suami dan mengajar anak.
Hanya saja... saya hanya penasaran..., apakah tidak ada rasa ingin meniti karir dalam diri mereka?

Apakah memang wanita itu masih dianggap hanya memiliki tujuan hidup sebagai seorang istri dan ibu?
Dan kuliah adalah...perintang waktu? Tempat mencari jodoh?
Wah, apa bedanya dengan era 1950-an?

Yang juga membuat saya bingung adalah..., semua teman-teman saya itu masih bergantung kepada ortu mereka. Dibelikan rumah, dibantu uang bulanan, dan sebagainya. Dengan alasan, suami (atau dirinya) kan baru meniti karir, gajinya masih belum mencukupi... .
Lho?
Saya tidak mengerti. Something's missing here.
Kalau tidak mampu menghidupi diri sendiri, kok berani mengambil pasangan dan punya anak, pula.

Saya berpendapat seperti ini mungkin karena dipengaruhi oleh didikan Papa (yang dipengaruhi oleh Engkong, tentunya), bahwa anak perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam hidupnya. Hak untuk mendapatkan pendidikan setinggi yang dimungkinkan keadaan, untuk dapat menghidupi dirinya sendiri (dan keluarga).

Papa selalu berpesan (sejak saya masih kecil), "Jangan pernah bergantung penuh kepada suami. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana nanti, kalau suami terkena apa-apa dan terpaksa bergantung kepada Noni? Bagaimana Noni bisa menghidupi suami dan anak, kalau Noni gak punya kebisaan?"

Saya besar dengan keyakinan bahwa saya adalah sebuah pilar, yang berdampingan dengan pilar satu lagi (suami) untuk menyangga rumah tangga kami, menaungi anak kami. Itu sebabnya saya mencintai keadaan saya yang bekerja. Saya merasa saya sedang membentuk diri saya sebagai pilar yang kuat.

Pemikiran saya mungkin aneh bagi beberapa orang. Sama seperti saya melihat kawan-kawan saya yang berpandangan lain tentang fungsi mereka sebagai manusia (wanita). Tapi, saya tetap tidak suka ditanya pertanyaan-pertanyaan itu. Sama parahnya dengan membayangkan saya, di usia 25 tahun, harus melepaskan kesempatan saya melihat dunia.

***

Teruntuk Jeff, yang meskipun bingung tapi tetap mendukung mimpi-mimpiku, yang mau mengerti bahwa saya bukannya tidak ingin menikah, tapi belum mau (dan siap)... . Phi u. :)

Big Day

Tanggal 5 Maret 2005 adalah hari yang spesial bagi saya, karena ada 2 event penting.

Hari ini (kemarin) Papa genap berusia 68 tahun. Wow, sebuah pencapaian yang cukup hebat kan? Mengingat saat kecil dulu saya selalu ketakutan Papa tidak akan ada saat saya tumbuh besar (inilah susahnya punya ayah yang sudah tua saat anaknya lahir, hehehe!). Yah, dulu, setiap Papa sneak out dengan Mama (saat belum cerai, tentunya)... saya selalu terbangun, seakan tahu kalau saya sedang ditinggal. Berbagai ketakutan menerpa. Bagaimana kalau Papa kecelakaan? Kalau Papa mati, bagaimana saya dan Jim hidup?
Alhasil, saya selalu mual dan tidak dapat tidur...sampai mendengar suara mesin mobilnya. Konyol, memang.

Kembali ke ulang tahun Papa. Saya menraktirnya ke Origano. Setahun yang lalu, saat saya dan Jeff merayakan hari jadi kami yang ke-5, kafe itu asyik banget. Menunya Italia banget deh, ada berbagai macam pasta dengan berbagai macam saus. Suasananya pun romantis, dengan diiringi alunan lagu Italia (bahkan ada lagu "Amore"!!).
Tapi alangkah kecewanya saya, saat tahu Origano sudah berubah. Sekarang spesialisasinya bukan lagi makanan Itali, melainkan steak and grill.
Disebut spesialisasi pun sepertinya bukan ya... . Minimal dari sisi saya sebagai konsumen. Dagingnya alot, bumbunya pun hanya ada dua pilihan: barbeque atau mushroom. Well, tidak ada black pepper maupun red wine, my faves. Saat saya memesan mushroom...rasanya pun biasa saja. Terasa ada yang kurang. Sherry. Tambahkan sedikit sherry, saus itu akan jauh lebih lezat! Oh well... .
Papa pesan Spaghetti Bolognaise (spelling?). Tidak mengecewakan, katanya. Tapi saya tahu... itu artinya belum cukup bagus menurut standar Papa. Well, minimal saya berhutang ngajak dinner di tempat yang ok. Nanti, mungkin...saat Jim pulang, kami makan-makan lagi.

Tentang Papa? Ah, saya sendiri tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya. It's just too complicated.

***

Hari ini juga sangat spesial buat Jeff. Dia resmi diwisuda, sekarang di belakang namanya sudah boleh ditambahkan titel MBA. Kemarin malam, saya menemaninya ke pesta pelepasan di Hotel Grand Aquilla. Saya benar-benar terkejut saat ia ajak. Saya pikir, itu adalah waktunya bersama kedua orangtuanya. Tapi rupanya ia punya pikiran yang berbeda dan saya sangat terharu.

Acaranya biasa saja, kalau mau jujur... dan kelihatannya Jeff juga tidak terlalu senang dengan acara itu. Tapi saya senang dengan keputusan dia berbagi saat itu dengan saya. Saya yakin, dia berharap acara tersebut menyenangkan dan saya menikmatinya. Oh well, saya memang menikmatinya, karena saya berjalan dan duduk di sisinya.

Pagi ini, ia menghadiri acara wisuda bersama keluarganya. Belum ada yang berubah antara saya dan keluarganya. Jadi, saya seorang persona non grata. Bukannya saya mengeluh. Itu sudah menjadi hal yang...tidak aneh lagi buat saya. I've got accustomed with it.

Semoga jadi momen bahagia Jeff, tidak ada yang lebih saya harapkan daripada itu, hari ini. Selamat wisuda, Honey... .

The First Entry.

OK, ini kali pertama saya mengisi blog. Sebelumnya, meskipun beberapa kali tersirat ingin membuat blog (sahabat saya, Liza, memiliki blog yang menarik), tapi selalu saya urungkan, mengingat saya bukan tipe orang yang telaten dalam menuliskan keseharian saya... .

Tapi, saya tidak akan tahu apakah saya menyukai blog atau tidak, kalau saya tidak mencobanya, bukan? ;)